Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Sebuah Catatan dari Perjalanan di Malam Minggu


“Mbak, dengar-dengar di Papua itu mudah ya cari duit?” suara itu memecah keheningan di dalam taksi yang membawa saya menuju Bandara Cengkareng. “Ah, siapa yang bilang pak?” tanya saya kepada sopir taksi  Blue Bird itu. “Sodara saya mbak, tetangganya ada yang pergi ke Papua dan berbisnis disana. Katanya cepat untungnya”, kata sopir itu. “Bisnis apa ya kenalannya itu?” tanya saya.  “Jualan makanan mbak, lalapan mujair dan lele, katanya itu”, jawabnya. “Oh, iya sih pak, sekarang memang banyak orang dari Jawa yang jualan lalapan ayam, dan menjamur jumlahnya”, kata saya dengan nada datar. “Tapi menurut saya sih tidak benar kalau cari uang di Papua itu gampang, soalnya biaya hidup juga tinggi”, lanjut saya. “Oh, gitu ya mbak?” tandasnya dengan nada heran. “Wah, kalau begitu mending di Jakarta ya, biar sulit nyari duitnya tetapi barang-barang pada murah –murah”, tegas bapak itu. “Iya Pak, lebih baik di Jakarta, dari pada ke Papua, bapak harus punya modal gede, mana mahal, terus tempat tinggal juga susah. Apalagi bapak tahu kan kalau Papua itu sering konflik,” terang saya meyakinkan bapak itu. “Iya ya mbak, perang suku itu kan?” katanya. “Bukan hanya perang suku pak, tetapi juga banyak demonstrasi. Kalau sudah demonstrasi, aparat suka kasar brutal sehingga warga sipil sellau jadi korban, termasuk orsang yang nggak ikut demo, bisa juga kena peluru nyasar loh Pak”, tambah saya. Dalam hati saya cuma berfikir, “huh, make up ceriteranya dikit, tidak apalah, supaya setidaknya mengurungkan niat dan keyakinan bapak itu untuk berfikir hijrah ke Papua dan mengadu nasib di Papua. Kami orang Papua bisa semakin tersingkir  kalau banyak orang di Jakarta punya pikiran begini.”  Bapak sopir itu kemudian terdiam dan manggut-manggut tanda setuju. Kami pun terdiam lagi dalam perjalanan sampai ke Bandara.

—————*————-

Setibanya di bandara terminal 1, saya pun bergegas menuju loket check in untuk membereskan semua urusan bagasi dan boarding pass. Tampak di antrian di depan saya beberapa lelaki dan perempuan setengah baya dengan berpakaian sederhana dan sedikit bergaya “Ndeso” kata orang Jogja. Dengan bahasa Jawa kentalnya, mereka mengobrol sambil membahas berapa lama perjalanan yang akan ditempuh. Saya menduga mereka orang baru yang akan ke Papua. Tampak barang bawaan mereka cukup banyak. “Ah, pengadu nasib lagi! Kami bisa benar-benar terusir dari tanah kami sendiri kalau setiap saat rombongan pengadu nasib ini datang. Tidak hanya mereka berpendidikan tinggi yang telah merebut posisi-posisi penting di sektor pemerintahan dan swasta di Papua, tetapi yang seperti-seperti ini juga semakin menjamur di trotoar-trotoar jalan dan gang, dengan tenda-tenda warung mereka”, pikir saya sambil menghela nafas panjang.

————–**————–

Di ruang tunggu pintu 6, tampak penumpang sudah tidak sabar lagi menunggu panggilan boarding yang sudah tertunda 40 menit dengan alasan operasional. Tampak rombongan orang-orang Papua yang duduk berkelompok sambil berceritera dan tertawa dengan gaya khas Papua. Namun di ruang tunggu tersebut jumlah orang bukan Papua lebih banyak dari pada orang Papua. Di sudut yang lain, ada sekelompok orang yang tampaknya baru pertama kali ini akan ke Papua. Mereka duduk bergerombol sambil mendengarkan penjelasan seorang pemuda yang sepertinya tengah memberikan arahan mengenai apa yang harus mereka lakukan ketika tiba nanti di Jayapura. “Hmm, rupanya mereka ini rombongan yang terkordinir dengan baik”, pikir saya. Saya berusaha menangkap pembicaraan mereka, namun karena ruangan cukup gaduh dengan suara orang-orang lain, saya hanya bisa mendengar sayup-sayup sehingga tidak bisa menangkap isi pembicaraan mereka.

Tiba-tiba saya mendengar suara seorang perempuan di belakang saya bertanya kepada seorang perempuan lain, “Ibu mau kemana?”. “Saya mau ke Wamena”, kata ibu itu. Saya tertarik untuk melihat siapa mereka sehingga sayapun menolehkan kepala saya kebelakang. Tampak seorsng perempuan bergaya kerena, dengan rambut disasak agak tinggi. Cantik parasnya penuh  riasan diwajahnya, yang menurut saya sedikit berlebihan, meskipun tetap terlihat sangat pas pada wajahnya. Bajunya ungu lembut tampak elegan, dengan gelang dan cincin yang cukup ramai menghiasi kedua gelangan tangan dan jari manisnya. Sementara itu perempuan yang di sebelahnya tampak lebih muda, sepertinya baru saja lulus dari universitas. Gayanya casual dengan celana jeans dan sweater abu-abu. Saya pun membalikkan posisi saya lagi dan mulai menyibukan diri dengan beberapa halaman koran Kompas yang tergeletak di kursi samping saya. Dari aksennya terdengar si perempuan muda itu bukan orang yang tinggal di Papua. Terdengar ibu itu membalas bertanya, “ Kalau mbak, mau kemana?” “Ke Jayapura, bu. Kalau ibu, menetap di Wamena ya?” Tanya perempuan muda itu. “Oh, nggak, saya di Jakarta sini, cuman lagi ada bisnis aja di Wamena. Lagi ada proyek di sana. Lumayan mbak, proyek kecil-kecilan”, kata ibu itu. “Kalau mbak?” Tanya ibu itu. “Mau cari kerjaan di Papua, bu. Om saya disana, kerja di pemerintahan. Saya mau diajak om saya untuk bantu-bantu dulu di biro statistik sebagai tenaga honorer dulu, sambil nunggu tes pegawai. Katanya akan ada tes pegawai bulan November nanti.” “Oh, bagus itu mba. Baru lulus kuliah ya?” Tanya ibu itu lagi. “Nggak juga bu, udah setahun ini nganggur, makanya diajak ke Papua”, jawab perempuan muda itu. “Kuliahnya ngambil apa?” tanya ibu itu lagi. “ Informatika bu”, jawabnya. “Kalau ibu, bisnisnya dibidang apa?” lanjutnya. “Proyek fisik dan pengadaan. Kerja dengan kontraktor lokal sih, tapi saya ngontrol aja. Kalau nggak dengan kontraktor lokal, nggak bisa dapet proyek, jadi kita join gitu dengan beberapa kontraktor lokal. Kan kita bantu mereka supaya bisa menang tender,” terang ibu itu. Saya jadi tidak konsen dengan koran Kompas saya. “Ternyata semua orang yang hari ini saya jumpai hanya mau mengambil peluang yang ada di Papua”, pikir saya dengan kesal. “Enak sekali orang-orang itu. Mengapa pemerintah Papua tidak bisa memproteksi orang asli Papua dengan membuat regulasi lokal mengenai pembatasan penduduk? Hmm, meskipun otsus sudah ditolak, tetapi tidak ada kata terlambat untuk membuat sesuatu seperti misalnya Perda. Sampai kapan kami akan menjadi penopang ekonomi orang lain?” guman saya dalam hati.

Di deretan kursi didepan saya, ada beberapa perempuan Papua duduk sambil mengobrol tentang Pilkada. Tampaknya mereka sedang mengusung salah satu kandidat yang tengah bermasalah dan baru saja mengikuti sidang di Mahkamah Konstitusi Jakarta. Mereka mendiskusikan beberapa kecurangan yang terjadi dan menurut mereka tidak dilihat oleh MK sehingga jago mereka kalah.”Wah, sekarang ini musim Pilkada dan banyak orang Papua sibuk dalam  proyek Pilkada ini. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk menyukseskan sokong menyokong kandidat “,  tanya saya pada diri sendiri sambil mengamati mereka. Tiba-tiba datang seorang ibu, perempuan Papua juga, yang bergabung dengan rombongan ini. Mereka rupanya saling kenal dan sudah lama tidak bertemu sehingga saling berpelukan dan cupika cupiki alias cium pipi kiri kanan. “Aduh, Usi, su lama tra liat baru ketemu disini eh”, kata seseorang dari antara mereka. “ Iyo, ini baru pulang liat anak perempuan yang ada kuliah disini. De ada sakit cacar air jadi”, jawab ibu itu. Dari  penampilannya, ibu ini saya duga berasal dari kalangan kelas menengah keatas Papua. Lalu ibu itu mengambil posisi duduk di deretan kursi itu juga. “Baru, kaka dorang habis ada kegiatan kah?” tanyanya kepada mereka. “Iya, biasa, tong ada urus gugataan Pilkada kemarin di MK itu. Tapi su selesai jadi ada mo pulang nih”, jawab salah seorang diantara mereka. “ Baru anak perempuan yang paling besar itu kah yang sakit?” tanya temannya itu. “Iyo, makanya sa datang sekalian antar anak nomor 3 yang masuk smp disini. Jadi sa su tinggal dari bulan Juli. Anak-anak semua disini. Tadi dong semua rame-rame antar saya pake mobil karena  nona yang tua itu ada bawa mobil. Sa beli mobil disini tahun lalu”, jawabnya dengan nada tenang. Lalu mereka bercakap-cakap sambil tertawa asik.

—————***—————

Sudah hampir 30 menit menunggu, sayapun memutuskan untuk ke toilet agar tidak kesulitan di atas pesawat nantinya. Di toilet rupanya sudah ada 3 orang Papua juga, satu nona dan dua orang mama Papua. Rupanya mereka sedang antri karena sementara kamar-kamar kecil telah terisi penuh. Saya pun  bergabung kedalam antrian itu. Saya mendengar mereka berbicara soal kegiatan gereja di Kalimantan. Rupanya mereka itu bagian dari rombongan yang baru saja pulang dari Kalimantan untuk mengikuti sebuah kegiatan gereja mereka. Tidak lama kemudian, datanglah seorang mama Papua juga, yang rupanya kenal dengan nona itu. Mama itu langsung bertanya,” Baru Alin su kerja dimana?” anak muda itu menjawab “ Belum nih mama, masih ada tunggu mo tes pegawai negeri. Dong bilang, bulan depan ada tes pegawai. Ada mau urus honor-honor di Pemda tapi susah juga. Harus kenal orang boleh. Jadi sementara ini sa bantu-bantu di gereja saja”, jawabnya. “Iyo, kerja di gereja sambil berdoa. Iman itu penting, supaya berkat juga datang”, nasihat mama itu.   Nona yang bernama Alin itupun mengiyakan dan kemudian masuk ke kamar kecil.

———–****————–

 

Panggilan untuk naik ke pesawat diumumkan lewat pengeras suara. Saya pun berdiri menuju antrian pintu keluar. Ternyata para calon penumpang ini boleh saya sebut “udik” sekali. Mereka benar-benar tidak tahu yang namanya antri. Terutama rombongan-rombongan yang kelihatannya baru sekali ini mau ke Papua. Mereka berdesakan dan dorong-dorong, sampai-sampai saya pun didorong oleh salah satu dari mereka. Saking kesalnya saya bilang, “Pak, ini bukan kapal laut pak, semua pasti kebagian tempat jadi jangan terlalu udik begitu, tenang saja!” yang kemudian diiyakan oleh beberapa orang-orang Papua di sekitar saya. “Seperti tra pernah naik pesawat saja”, kata salah seorang dibelakang saya dengan sedikit kesal. Akhirnya saya pun masuk ke pesawat dan menempati tempat duduk saya. Perjalanan selama 4 Jam ke Makasar dan 3 setengah jam ke Jayapura itu saya lewati dengan berusaha memejamkan mata meski sulit. (Biwangko)

Ditulis 18 Oktober 2010

Di lembahku istanaku

Read Full Post »